MEMBANGUN BISNIS DENGAN SENTUHAN HATI DALAM KERANGKA FILOSOFI KHALIFATULLAH FIIL ARDH : SEBUAH TINJAUAN AKSIOLOGI

 

Oleh : Suhita Whini Setyahuni

ABSTRACT

Capitalism has been criticized for a long time ago.  The failure of capitalism in enhancing social welfare is caused by its concept of materialism. Materialism enables human exploring resources freely without pay attention to others. The only focus of capitalism is how to maximizing wealth that driven by self-interest. One of the bad impacts of capitalism on accounting is accounting failed to be the social tool that provides information based on reality. Accounting provides information that gives advantages to owner and capital holder only. On the other hand, humans were created to be khalifah on the earth. Human has a responsibility to subserve to its God and being helpful to others. Therefore, implementing khalifatullah fiil ardh concept into business activity is important to enhance business and accounting practice, which social welfare is considered as the main goal.

Keywords: Khalifatullah fiil ardh philosophy, business by heart, accounting practice.

PENDAHULUAN

Aktivitas bisnis merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia sebagai makhluk sosial, dimana manusia dituntut untuk terus berusaha memenuhi kebutuhan jasmaninya. Dalam sejarah perkembangannya, aktivitas bisnis muncul karena tuntutan keinginan manusia yang tidak terbatas sedangkan sumber daya ekonomi yang digunakan untuk pemenuhan kebutuhan bersifat langka dan terbatas. Dimulai dari sistem barter sebelum dikenalnya mata uang, sampai dengan yang dapat kita lihat di masa sekarang, dimana proses bisnis berkembang sangat pesat dengan beraneka rupa ragam dan jenisnya. Perkembangan bisnis yang pesat kemudian membentuk raksasa-raksasa ekonomi diberbagai negara di dunia, dengan corak khas nya masing-masing.

Dalam sejarah dunia,ada dua dominasi system ekonomi yang dikenal di masyarakat, sekaligus diadopsi untuk diterapkan di negara-negara lainnya, yaitu system ekonomi kapitalis dan system ekonomi sosialis. Dua dominasi system ekonomi ini berlandaskan ideologi yang berbeda dan perseteruan diantara keduanya masih meninggalkan jejaknya hingga sekarang. Sejak runtuhnya Uni Soviet yang diikuti dengan berakhirnya perang dingin, Amerika Serikat sebagai pemegang ideology kapitalisme mengukuhkan dirinya sebagai pemenang perseteruan tersebut dan berusaha mengimplementasi system kapitalis di seluruh negara di dunia dengan dalih globalisasi.

Dunia kemudian memasuki babak baru yang disebut kapitalisme global, dimana negara-negara dunia ketiga pun ikut menerapkan kapitalisme, tak terkecuali Indonesia. Pola pikir kebebasan dengan memaksimalkan kekayaaan diri sendiri khas kapitalisme telah mewarnai kehidupan ekonomi Indonesia dan tercermin dalam nilai-nilai yang mendasari proses bisnis organisasi. Nilai kegamaan, kemanusiaan, moralitas, dan nilai social seperti gotong royong khas ketimuran Indonesia, secara perlahan-lahan tergerus oleh arus kapitalisme global dan saat ini sudah semakin sulit menemukan corak nilai khas asli Indonesia dalam kehidupan ekonomi masyarakat Indonesia sendiri. Kapitalisme menyisakan nilai materialis yang membawa dampak kesenjangan antara “si kaya” dan “si miskin” semakin melebar.

Kapitalisme telah mengeksplor sisi keserakahan manusia dengan dalih kelangkaan (scarcity) alat pemenuhan kebutuhan. Manusia diperbolehkan menggunakan berbagai cara secara bebas untuk mendapatkan keuntungan pribadi atau kelompoknya. Dalam kapitalis, dikenal juga konsep utility. Utility yang dimaksud adalah kegunaan, dimana menurut kacamata kapitalis, kegunaan ini sangat personal dan tergantung dari keinginan masing-masing individu. Keinginan individu dapat sangat beragam. Sehingga, dengan kata lain, dapat diartikan bahwa barang dan jasa dapat memberikan manfaat apabila barang dan jasa tersebut memiliki kegunaan, dimana indicator kegunaan adalah sesuai dengan selera keinginan individu. Sudut pandang ini dapat menjadi sedemikian berbahaya apabila kita menelaah lebih dalam. Barang dan jasa tetap akan memiliki nilai kegunaan selama masih ada orang yang menginginkannya dan memberikan kepuasan bagi individu. Katakanlah produk berbahaya seperti minuman keras, rokok, narkoba, tempat prostitusi, kasino, dan semua hal yang merugikan lainnya akan tetap diproduksi, didistribusi, dan dikonsumsi karena factor want (keinginan). Bahkan sebaliknya, bisnis-bisnis tersebut semakin tumbuh subur berkembang di masyarakat, bahkan mendapatkan dukungan dari kelompok-kelompok yang mempunyai power karena mereka juga ikut diuntungkan dari adanya bisnis tersebut.

Dari sudut pandang nilai, kapitalisme mengusung konsep bahwa nilai paling tinggi dalam ekonomi adalah saat kebutuhan terpenuhi dan materi bisa didapat. Konsep ini kemudian membentuk karakter individu dan masyarakat yang materialistis. Karena kapitalisme menjunjung tinggi nilai-nilai materialism. Tidak ada yang lebih penting selain menambah kekayaan dan menumpuk harta untuk kepentingan pribadi. Dari pandangan kapitalisme soal material inilah nilai-nilai luhur seperti nilai keharmonisan, persaudaraan, dan bahkan nilai keagamaan menjadi terabaikan.

Sebenarnya baik system ekonomi kapitalis maupun sosialis mempunyai kemiripan. Deegan (2007) menyatakan bahwa konsep Karl Marx untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dilakukan dengan cara mengganti tenaga kerja manusia dengan optimalisasi mesin-mesin produksi, dengan harapan kapasitas mesin dapat ditingkatkan 24 jam dan akan menurunkan biaya produksi, sehingga harga produk menjadi murah dan dapat dijangkau seluruh lapisan masyarakat kelas bawah. Konsep menurunkan biaya produksi dengan mengganti tenaga manusia dengan memaksimalkan kapasitas mesin bukanlah sebuah solusi. Hanya menggeser sedikit tingkat biaya produksi, tetapi menimbulkan permasalahan baru. Jika semua produksi menggunakan mesin dan penggunaan tenaga manusia seluruhnya tergantikan oleh mesin, maka lapangan pekerjaan akan menyempit dan banyak orang yang kesulitan mendapatkan pekerjaan. Ketika banyak orang yang tidak mendapatkan pekerjaan, maka semurah apapun harga sebuah produk, masyarakat tetap tidak akan mampu membeli. Sistem sosialis merupakan antitesa system kapitalis tetapi bukan merupakan solusi untuk dijadikan sebuah system ekonomi alternative yang dapat membawa kesejahteraan masyarakat.

Proses bisnis sendiri merupakan proses yang sangat melekat pada ideology ekonomi yang dianut suatu negara. Manajemen pengelolaan bisnis akan tergantung nilai-nilai yang mendasari pemilik entitas bisnis. Jika nilai yang dianut adalah nilai materialisme, maka nilai itu akan tercermin dalam aktivitas bisnis. Sebaliknya jika nilai yang dianut adalah nilai kebersamaan, maka akan tergambarkan pula dalam aktivitas bisnisnya. Dengan demikian, jika ingin menciptakan sebuah bisnis yang dapat menyejahterakan masyarkat, hal yang pertama dilakukan adalah memperbaiki landasan ideology terlebih dahulu.

POTRET KAPITALISME DI INDONESIA

Indonesia menganut ideology pancasila, yang sebenarnya tujuannya adalah untuk mencapai keadilan social sebesar-besarnya. Menurut Budimanta (2018) kultur budaya menjadi pintu masuknya penetapan suatu kebijakan termasuk dalam penerapan sistem ekonomi. Seharusnya dominasi kultur budaya dalam penetapan system ekonomi terlihat dalam ekonomi Indonesia. Namun, fakta menunjukkan sebaliknya. Data Credit Suisse 2017 menyebutkan, sebanyak 1% orang terkaya Indonesia menguasai 45,4% kekayaan nasional. Sedangkan dari sisi kondisi ketimpangan, laporan bertajuk "Global Wealth Report 2017" itu menempatkan Indonesia di peringkat ke-4 setelah Thailand, Rusia, dan China. Angka ini sudah cukup mengkhawatirkan mengingat ketimpangan kekayaan si kaya dan si miskin di Indonesia semakin melebar.

Data index kapitalisme kroni versi The Economist tahun 2016 menempatkan Indonesia pada peringkat ketujuh di dunia. Posisi Indonesia pada tahun ini berada di atas Turki (8), India (9), Taiwan (10), China (11), dan Thailand (12). Sementara di atasnya ada Rusia (1), Malaysia (2), Filipina (3), Singapura (4), Ukraina (5), dan Meksiko (6). Angka Bank Dunia itu menunjukkan, hampir dua pertiga harta kekayaan konglomerat Indonesia didapat dari hasil bisnis yang terkolaborasi dengan penguasa.

Kapitalisme kroni menunjukkan hubungan penguasa atau pemerintah dengan pebisnis. Kapitalisme Kroni dapat dimaknai sebagai sistem kapitalisme suatu negara yang dibangun berdasarkan kedekatan para pengusaha dengan penguasa. Kedekatan hubungan antara dua pihak yang mempunyai power ini cukup berbahaya. Pebisnis dengan powernya mampu mempengaruhi penguasa dengan kekayaan yang dimilikinya dan dapat memaksa pemerintah mengakomodasi kepentingan para pebisnis. Kedekatan hubugan ini juga memungkinkan masuknya modal dari pebisnis untuk para calon pemimpin agar dapat terpilih, dengan harapan setelah terpilih menjadi pemimpin dapat melindungi kepentingan pebisnis dengan dalih hutang budi. Kapitalisme kroni dapat menggeser kedudukan pemimpin dimana power tak lagi berada di tangan pemimpin, melainkan berpindah ke pihak yang mempunyai kekayaan. Fenomena ini sudah terjadi di Indonesia dimana kebijakan-kebijakan pemerintah tidak bisa lepas dari unsur kepentingan kelompok-kelompok pemilik modal.

Dari mekanisme tersebut, kembali yang menjadi pihak yang dirugikan adalah rakyat kecil. Keberhasilan pertumbuhan ekonomi hanya dinikmati oleh 20 persen penduduk terkaya di Indonesia, sedangkan 20 persen penduduk Indonesia tidak mendapatkan manfaat dari pertumbuhan ekonomi dan pembangunan ini.

AKUNTANSI DALAM PERSPEKTIF DUNIA KAPITALISME

Akuntansi merupakan alat bantu dalam dunia bisnis yang berguna untuk menyajikan informasi mengenai kinerja entitas bisnis. Guthrie dan Parker (1990) dalam Deegan (2007) menyatakan bahwa laporan akuntansi merupakan dokumen sosial, politik, dan ekonomi. Laporan keuangan akuntansi berfungsi sebagai alat untuk membangun, mempertahankan dan melegitimasi pengaturan ekonomi dan politik, serta lembaga-lembaga dan ideologi yang dapat berkontribusi terhadap kepentingan organisasi itu sendiri.

Akuntansi sangat melekat pada proses bisnis, dimana proses bisnis sendiri melekat erat pada system ekonomi yang dianut. Deegan (2007) juga meyatakan bahwa akuntansi sebagai alat social diharapkan mampu memotret realita atau fenomena yang terjadi di masyarakat. Namun pada kenyataannya, akuntansi belum mampu sepenuhnya memotret fenomena dan menyajikan informasi apa adanya tanpa memihak kepentingan kelompok tertentu.

Ketidakmampuan akuntansi dalam memotret fenomena riil tercermin dalam bentuk format laporan akuntansi itu sendiri. Format laporan akuntansi yang pertama adalah laporan kekayaan dalam laporan posisi keuangan. Kekayaan siapakah yang dilaporkan? Apakah kekayaan karyawan? Tentu saja kekayaan yang dilaporkan adalah kekayaan pemilik perusahaan sebagai pihak yang mempunyai power. Format yang kedua adalah laporan laba rugi, dimana dalam laporan laba rugi, informasi yang disajikan adalah laba atau keuntungan dari pemilik perusahaan. Laba dijadikan salah satu indicator kinerja perusahaan. Bahkan tidak sedikit perusahaan dengan menggunakan alat akuntansi, memoles kinerja perusahaan dengan menampilkan image palsu. Membuat laporan akuntansi perusahaan menjadi terlihat baik di mata masyarakat. Menggunakan manajemen laba untuk memanipulasi laporan keuangan., dengan melaporkan bahwa perusahaan itu memperoleh laba yang tinggi, padahal kenyatannya mengalami kerugian. Semua dilakukan karena pemilik perusahaan terpaku pada satu indikator kinerja, yaitu bagaimana memperoleh laba semaksimal mungkin dalam bentuk apapun. Seperti  yang terjadi pada kasus Enron pada tahun 2001-2002 , yang menyebabkan menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap akuntansi. Akuntansi dianggap gagal menjalankan tugasnya menyajikan informasi yang reliable dan dapat dipercaya.

Menurut Isgiyarta (2009) akuntansi konvensional yang sudah dipraktikkan dalam dunia bisnis selama ini merupakan suatu produk budaya kapitalis. Dalam akuntansi konvensional tersebut banyak terdapat kepentingan-kepentingan yang sejatinya merupakan refleksi atau gambaran dari ciri khas budaya kapitalisme, dimana sistem kapitalisme menempatkan kepentingan individu sebagai titik awal penggerak sistem ekonomi. Karena kepentingan individu yang diutamakan, maka individu yang mempunyai kekuasaan dan kekayaan yang tentunya akan menerima manfaat dari proses bisnis sekaligus menjadi titik fokus dari akuntansi. Laporan akuntansi telah didesain untuk melindungi kepentingan pemilik modal sebagai pihak yang mempunyai power.

Kapitalisme telah terbukti mempengaruhi proses bisnis, memunculkan sikap egoisme, menipu, dan menghalalkan berbagai cara demi memperoleh keuntungan pribadi. Corak kapitalisme lainnya yang ada tubuh akuntansi adalah akuntansi tidak mampu mengakomodasi kepentingan kaum yang termarjinalkan untuk disajikan dalam laporan akuntansi perusahaan. Seperti yang telah dijelaskan, laporan akuntansi hanya menyajikan semua tentang kekayaan pemilik tanpa megungkap realita yang sebenarnya terjadi. Sebagai contoh, dalam annual report perusahaan tidak pernah ada informasi yang mengungkapkan kesejahteraan buruh atau karyawan. Apakah karyawan telah dipenuhi hak nya? Apakah karyawan telah menerima upah yang sesuai? Atau apakah aktivitas perusahaan membawa dampak buruk bagi lingkungan masyarakat? Semua realita itu tidak dapat kita temukan dalam laporan akuntansi perusahaan.

Pada perkembangan selanjutnya, mulai muncul fitur tambahan dalam laporan akuntansi yang kita kenal dengan Corporate Social Responsibility (CSR). CSR hadir karena kejenuhan masyarakat atas materialitas kapitalisme yang hanya mengukur sesuatu berdasarkan kinerja finansial atau berdasarkan keuntungan yang diperoleh. CSR berusaha membidik indikator-indikator non finansial berupa kepedulian lingkungan, perlindungan tenaga kerja, dan pengabdian masyarakat. Namun agaknya CSR juga tidak berfungsi dalam arus kapitalisme. Deegan (2007) menyatakan bahwa pelaporan CSR menjadi sesuatu yang sia-sia karena tidak memberikan perubahan yang fundamental dalam perbaikan kesejahteraan masyarakat. Lebih jauh Deegan (2007) menyatakan bahwa dibutuhkan sebuah reformasi social yang menyeluruh dan bukan hanya sekedar reformasi akuntansi. Jika dilihat menggunakan Teori Legitimasi, perusahaan akan mengungkapkan informasi untuk mendapatkan pengakuan atau legitimasi dari masyarakat bahwa perusahaan telah memenuhi ekspektasi masyarakat (Deegan : 2007).

Katakanlah sebuah perusahaan rokok yang gencar melakukan legitimasi melalui CSR. Di Indonesia sendiri industry rokok memiliki alokasi CSR yang besar dibandingkan dengan industry lainnya. Dengan menggunakan alat CSR, produk rokok menjadi semakin diterima masyarakat, padahal rokok merupakan produk yang membahayakan masyarakat. Dampak kesehatan dan dampak social yang ditimbulkan oleh rokok sangat merugikan masyarakat. Apakah dengan melakukan CSR dan informasi tentang kinerja CSR dilaporkan akuntansi dalam Sustainability Report, perusahaan rokok telah berkontribusi dalam memperbaiki kesejahteraan masyarakat? Jawabannya tentu tidak. Hal ini juga berlaku sama untuk industry lainnya selain industry rokok. Karena hakikatnya, perusahaan melakukan CSR bukan berfokus pada kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan, melainkan agar perusahaan dapat legitimate dan diterima oleh masyarakat, yang ujungnya kembali kepada keuntungan pihak-pihak yang mempunyai power, seperti yang dinyatakan oleh Deegan (2007).

Dengan demikian telah jelas kita tidak dapat menyelesaikan permasalahan dalam akuntansi tanpa memperbaiki proses bisnis terlebih dahulu. Akuntansi hanya alat bantu bisnis untuk menyajikan informasi kinerja. Akuntansi akan memotret informasi sesuai dengan keinginan pemilik bisnis. Maka, sulit bagi akuntansi untuk menjadi objektif. Sebagai ilmu social akuntansi juga sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai yang dianut dalam masyarakat. Jika nilai kapitalisme yang tercermin dalam aktivitas bisnis, maka akuntansi pun akan menjadi bercorak kapitalisme.Sehingga dibutuhkan model bisnis lain yang tidak menganut nilai-nilai kapitalisme, melainkan menganut nilai Ilahi yang telah diturunkan dalam nurani manusia, yang tujuannya adalah memberikan kebermanfaatan untuk manusia sesame manusia dan membangun kesejahteraan peradaban umat manusia.

FILOSOFI KHALIFATULLAH FIIL ARDH

Dalam filsafat eksistensialisme, manusia dalam keberadaannya sadar bahwa dirinya ada. Eksistensi sendiri berarti keberadaan. Manusia dipandang sebagai suatu mahluk yang harus bereksistensi (berbuat), mengkaji cara manusia berada di dunia dengan kesadaran. Jadi dapat dikatakan pusat renungan eksistensialisme adalah manusia konkret. Manusia dituntut untuk memikirkan untuk apa manusia berada di dunia ini.

Jika merujuk kepada Alqur’an sebagai sumber utama umat Islam, dalam Surat Al-Baqarah ayat 30 disebutkan bahwa tujuan penciptaan manusia adalah untuk menjadi khalifatullah fil ardhi.

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".(Q.S Al Baqarah : 30)

Sinaga (2011) menyatakan bahwa predikat khalifatullah fil ardhi merupakan kedudukan yang sangat luar biasa, yang berbeda dari makhluk lainnya. Khalifatullah fil ardhi diartikan sebagai subjek yang mampu membaca dan menafsirkan kehendak dan aturan-aturan Tuhan untuk kemudian diterjemahkan menjadi perilaku konkrit yang tujuan utamanya adalah menjaga kemaslahatan di muka bumi. Untuk menjadi seorang Khalifah, manusia yang tadinya berdimensi basyar (jasmani atau biologis) harus berubah menjadi dimensi insan (psikologis - intelektual). Hal yang dibutuhkan untuk mempunyai dimensi insan adalah pertama, mempunyai kemampuan Sami’, yaitu mendengarkan setiap informasi untuk mencari kebenaran. Kedua, manusia harus mampu untuk Basyiron, yang berarti kemampuan melihat dan membandingkan informasi yang didengarkan untuk mencari kebenaran. (Sinaga : 2011)

Proses yang membentuk manusia menjadi khalifatullah fiil ardh akan menghasikan manusia yang taat, yaitu taat kepada Tuhannya dan mematuhi semua aturan Tuhannya. Manusia menjadi mengetahui dengan sadar untuk apa dia berada di bumi. Dengan mengetahui dirinya sebagai Khalifatullah fiil ardh akan memunculkan rasa tanggung jawab manusia, bahwa dirinya lah yang diberi amanah untuk mengelola dan menjaga kemaslahatan tidak hanya sesama manusia melainkan kemaslahatan seluruh makhluk yang ada di bumi. Manusia ditunjuk sebagai pemimpin di bumi oleh Tuhannya. Sebagai pemimpin harus takut dan tunduk kepada yang memberi wewenang.

Dalam menjalankan tugas nya sebagai khalifah di bumi, manusia juga harus mengetahui apa fungsi manusia di muka bumi. Fungsi utama manusia di muka bumi dijelaskan dalam Alqur’an surat Adz-dzariyat ayat 56 yang artinya sebagai berikut :

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”.(QS. Adz-Dzariyat :56)”

Dari ayat diatas dijelaskan bahwa fungsi manusia diciptakan adalah untuk mengabdi kepada Tuhan. Manusia adalah hamba Tuhan yang diberi amanah untuk menjadi pemimpin (khalifah) dengan fungsi untuk mengabdi kepada Tuhan. Dalam hal ini, setiap aktivitas manusia harus benilai pengabdian kepada Tuhannya. Apapun aktivitas manusia di muka bumi, termasuk aktivitas bisnis yang dijalankannya harus bernilai ibadah dan pengabdian.

Bagaimana menuangkan nilai pengabdian dan nilai ibadah ke dalam aktivitas bisnis manusia? Merujuk kepada sumber hukum kedua dalam Islam yaitu Al-hadits, disebutkan sebagai berikut:

Diriwayatkan dari Jabir berkata, ”Rasulullah Shallallahualaihiwassalam bersabda,’Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni)

Jika merujuk pada hadits tersebut, untuk menjadi sebaik-baik manusia adalah dengan menjadi yang paling bermanfaat bagi orang lain. Dengan demikian jika manusia menjalankan aktivitas bisnis, aktivitas bisnis tersebut harus mampu memberikan manfaat yang paling banyak bagi masyarakat sekitarnya. Dengan demikian, yang mendapatkan manfaat dari proses bisnis tidak hanya pemilik modal atau pihak-pihak yang mempunyai power, melainkan juga pihak yang termarjinalkan seperti karyawan atau buruh, lingkungan, dan social masyarakat secara keseluruhan.

PROSES BISNIS DENGAN SENTUHAN HATI

Dalam pandangan kapitalisme, sumber daya digolongkan menjadi Man, Money, dan Machine. Dalam ilmu manajemen, sumber daya Man (manusia) menjadi salah satu sumber daya yang sangat penting, sehingga perlu dikelola. Sehingga muncul ilmu untuk mempelajari bagaimana mengelola manusia sebagai sumber daya yang dapat digunakan oleh perusahaan, yang dikenal dengan Human Resources Development (HRD). Sumber Daya Manusia dipandang menjadi asset yang sangat berharga dan karenanya harus dikelola dengan baik, tentunya dalam rangka memaksimalkan kontribusi kepada perusahaan. Sedangkan dalam inti kapitalisme adalah bagaimana memanfaatkan sumber daya yang terbatas untuk memenuhi kebutuhan manusia yang tak terbatas. Manusia digolongkan sebagai sumber daya, dimana sumber daya akan dipergunakan semaksimal mungkin untuk mendapatkan keuntungan. Kesalahan dalam menempatkan manusia sebagai sumber daya inilah yang mengakibatkan kekacauan dalam proses bisnis kapitalisme.

Manusia bukanlah sumber daya, bukan pula asset perusahaan. Manusia merupakan manusia, yang mempunyai kedudukan sejajar dengan pemilik perusahaan atau pemilik modal. Di dalam Islam, tidak ada perbedaan antara si kaya dan si miskin, atasan dan bawahan, atau pemilik dan karyawan. Semua manusia sama di mata Tuhan. Manusia diberikan amanah yang sama sebagai khalifatullah fiil ardh. Manusia mempunyai fungsi yang sama untuk mengabdi dan tunduk kepada Tuhannya.

Manusia dibekali dengan akal dan hati nurani. Akal digunakan untuk berfikir mencari kebenaran. Sedangkan hati nurani merupakan tempat untuk berkomunikasi dengan Tuhan. Hati  nurani berfungsi untuk memfilter apakah sebuah tindakan yang dilakukan manusia itu benar atau salah. Suara hati nurani dapat memerintahkan kita dan menuntun kita untuk melakukan apa yang baik dan benar. Suara hati nurani berbicara kepada kita tentang keadilan, nilai moral, kerendahan hati, kejujuran,ketulusan, secara singkat apapun yang memang baik.

Dalam Alqur’an Surat Asy-Syams menjelaskan fungsi hati nurani sebagai penunjuk jalan kefasikan dan ketakwaan.

 Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (QS. Asy-Syams : 7-9)”

Manusia dituntut untuk menggunakan hati nurani nya dalam setiap aktivitasnya agar dapat membedakan dan menilai dengan hatinya apakah aktivitas atau perbuatan yang telah dilakukan itu telah benar. Penggunaan hati nurani juga dapat tercermin dalam aktivitas bisnis manusia. Manusia yang menggunakan hati nya dalam mengelola bisnis akan menempatkan manusia lainnya dalam posisi yang seharusnya. Penggunaan hati dalam proses bisnis tidak akan memunculkan eksploitasi manusia karena dirinya akan merasakan bagaimana rasanya bila menjadi pihak yang minoritas dan termarjinalkan.

Proses bisnis dengan sentuhan hati dapat dimaknai dengan prinsip memanusiakan manusia. Karyawan  bukan lagi dilihat sebagai sumber daya atau asset, melainkan sebagai sesama hamba yang mempunyai hak atas sebagian waktunya untuk digunakan beribadah kepada Tuhannya. Karyawan tidak dieksploitasi untuk diambil waktu, tenaga, dan pikirannya untuk kepentingan perusahaan. Karyawan juga akan diberikan imbalan yang layak yang sesuai dengan kerja keras nya dan kontribusinya dalam memajukan perusahaan. Karyawan juga dapat menerima manfaat atau keuntungan dari proses bisnis perusaahn. Keuntungan bukan hanya milik pihak-pihak yang mempunyai kekayaan, melainkan digunakan bersama untuk memajukan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.

KESIMPULAN

Sistem ekonomi kapitalisme menyebabkan kesengsaraan dalam masyarakat dengan adanya eksploitasi alam dan manusia untuk mendapatkan keuntungan pihak-pihak yang berkuasa. Permasalahan dalam system ekonomi kapitalis juga membawa dampak buruk bagi akuntansi, dimana akuntansi tidak mampu memotret realita yang terjadi di masyarakat dan melaporkannya sebagai informasi. Permasalahan pada akuntansi tidak dapat diselesaikan tanpa mengubah struktur social dan proses bisnis. Proses bisnis dengan sentuhan hati adalah memaknai manusia sebagai khalifatullah fiil ardh yang mempunyai kedudukan yang tinggi dibandingkan makhluk lainnya, menempatkan manusia sesuai kedudukannya dengan tidak mengeksploitasi manusia, agar tujuan kemaslahatan di bumi dapat tercapai. Dengan memperbaiki proses bisnis, akuntansi sebagai alat bisnis juga akan berubah menuju perbaikan.

Comments

Popular posts from this blog

TELAAH KRITIS ADOPSI IFRS DI INDONESIA

Workshop Handcraft Bagi Remaja Kelurahan Kedungpane